Pembangunan Masjid, Rencana Atau Wacana?

Lagi-lagi kebutuhan akan kerohanian sudah sepatutnya disediakan oleh sekolah, baik sekolah negeri atau pun swasta. Tetapi tidak semua sekolah sudah memiliki fasilitas yang mendukung untuk shalatJumat ditempat, misalnya saja SMA Negeri 2 Purbalingga, saat tiba waktunya shalat siswanya harus menggunakan aula sebagai alih fungsi selain untuk kegiatan-kegiatan di sekolah itu sendiri. Saat ini juga sudah terdapat mushola untuk shalat, areanya berada di sebelah selatan dari lapangan basket. Sebagai rencana awal, area mushola akan di pindahkan dekat gor, di depan tempat parkir.

Pasti banyak orang bertanya-tanya tentang siapa, mengapa dan pertanyaan penting lainnya yang menguatkan alasan didirikannya masjid yang baru menjadi rencana ini. Rencananya proyek besar ini telah ditargetkan selesai pada tahun 2022 setelah diadakannya musyawarah dengan para pengurus tetapi nyatanya baru akan dimulai Desember tahun 2022. Luas bangunan itu sendiri berkisar 230m² dengan atapnya yang melambangkan filosofi khas Jawa dengan tiga tingkat, pembangunan masjid yang luas ini tentunya membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Dari penuturan Pak Samsudin selaku kepala sekolah di SMA Negeri 2 Purbalingga mengatakan bahwa membangun masjid adalah investasi akhirat harus diwujudkan dan dimanfaatkan untuk ibadah serta membentuk akhlak generasi muda. Kesulitan sejak awal perencanaan, rencananya akan membongkar beberapa bangunan kelas, kendalanya merobohkan bangunan pemerintah perlu izin.

Untuk membangun proyek yang cukup luas ini meraup dana sebesar 1,2 M tetapi baru terkumpul sebesar 600 juta rupiah. Dana yang telah diterima bersumber dari seluruh warga sekolah, dimulai dari murid, wali murid, guru-guru dan masyarakat. Untuk kekurangan dana ada kesanggupan dari yayasan untuk mendanai. Bentuk sumbangan, yaitu material bangunan yang senilai dengan uang. Yayasan ini juga yang pernah membantu yayasan An-Naba yang ada di Banyumas, mekanismenya adalah dana dari luar negeri diteruskan ke Kementerian Agama berlanjut ke orang yang dapat dipercayai untuk disampaikan kepada yayasan dengan kebutuhan yang tepat. Pasti semua orang akan bertanya, mengapa tidak pemerintah saja yang mendanai? Jawabannya karena pemerintah hanya akan membangun bangunan pendidikan, sedangkan masjid adalah bangunan di luar kepentingan dari pendidikan. Bahkan pemerintahan pun hanya akan mendanai jikalau ada perbaikan-perbaikan ringan seperti perbaikan pada cat tembok yang mengelupas, menambal dinding yang terkikis dan perbaikan ringan lainnya. Apabila dana untuk membangun masjid ini telah terkumpul pihak sekolah akan menggunakan jasa buruh harian lepas dengan didampingi seorang konsultan proyek. Ke depannya jikalau dana dari yayasan telah turun pihak sekolah pun tidak bisa menggunakan rancangan yang telah diagendakan sebelumnya, karena struktur bangunannya harus mengikuti rancangan dari yayasan yang berdonasi.

Dari sekian banyak rencana, membangun masjid adalah salah satu yang belum terealisasikan sampai detik ini, bangunannya pun belum terdapat fondasi di area yang telah direncanakan, pihak sekolah sangat terbuka dengan dana dari publik untuk membantu berlangsungnya pembangunan masjid yang tidak sedikit dananya itu.

writer : Amelia Sumardan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *