SMA NEGERI 2 Purbalingga Sekolah Ramah Anak

Kasus kriminal kecil berakibat pada sesuatu yang sangat mengerikan. berakibat pada sesuatu yang sangat mengerikan. Jambret tewas terbakar, pencuri yang meregang nyawa akibat dikeroyok oleh massa serta aksi-aksi yang tak kalah kejam lainnya.

Pada sisi yang lain, pelaku kejahatan juga menunjukkan aksi keberingasannya di luar batas kemanuasian. Perampokan dan pembegalan yang disertai pembunuhan terlalu sering kita konsumsi sebagai pemberitaan harian.

Lantas bagaimana dengan dunia pendidikan? Apakah di dunia yang mengajarkan akhlak mulia, moral dan kecerdasan ini terhindar dari budaya kekerasaan ini? Sukar meng-iya-kan, sebab pada kenyataannya, kita masih sering disuguhi fenomena tawuran antarpelajar, maraknya aksi bullying, kasus pornoaksi dan pornografi yang tidak saja melibatkan pelajar tetapi juga merambah melibatkan guru.

Ironisme ini menghadirkan kekhawatiran orang tua siswa terhadap anaknya selama berada di lingkungan sekolah/madrasah. Yang pada akhirnya jika terus dibiarkan akan menjadi hilangnya rasa kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan.

Mencermati hal sedemikian, kiranya perlu langkah taktis guna mengurangi atau bahkan mengikis tuntas aksi kekerasaan di ranah sekolah/madrasah. Pertama dan utama adalah dengan menciptakan sekolah/madrasah yang ramah anak.

SMA N 2 Purbalingga merupakan salah satu sekolah di Purbalingga, Jawa Tengah yang sudah menerapkan sekolah ramah anak. Dalam artian sederhana,SMA N 2 Purbalingga memprogramkan untuk memunculkan semua potensi kemampuan anak dapat tereksploitasi dengan baik dan terlindung dari tindak kekerasan dan diskriminasi. Program SMA N 2 Purbalingga ramah anak ini memerlukan prinsip-prinsip yang mesti dikembangkan, yakni tanpa kekerasan, tanpa diskriminasi berorientasi pada kepentingan terbaik anak, terjaminnya hak tumbuh dan berkembang, serta menghargai terhadap pendapat anak.

Penerapan program sekolah ramah anak SMA N 2 Purbalingga menjadi pendekatan restorative justice atau peradilan yang memulihkan. Sebab pada kenyataannya kita meyakini bahwa manusia memiliki potensi untuk memperbaiki diri jika diberikan kesempatan. Selain itu, bukankah manusia juga memiliki hati nurani yang selalu mengingatkan untuk berbuat baik, jujur, berkasih sayang dan tidak melanggar aturan.

writer : Alya septiyana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *